Pembelajaran di bidang kesehatan penglihatan tidak cukup hanya mengandalkan teori di ruang kelas. Diperlukan pengalaman langsung di lapangan agar mahasiswa mampu memahami kondisi nyata yang akan mereka hadapi dalam dunia kerja. Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta menyadari pentingnya hal tersebut dengan melibatkan mahasiswa dalam kegiatan skrining patologi mata dan rujukan deteksi dini katarak dan pterigium. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran aplikatif yang mengintegrasikan pengetahuan akademik dengan praktik pelayanan kesehatan mata di masyarakat.

Melalui kegiatan skrining ini, mahasiswa tidak hanya belajar melakukan pemeriksaan mata, tetapi juga memahami peran profesional refraksi optisi dalam mendukung upaya pencegahan gangguan penglihatan. Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud kontribusi nyata institusi pendidikan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit mata.


Latar Belakang Kegiatan Skrining Mata

Katarak dan pterigium merupakan dua kondisi gangguan mata yang cukup sering ditemukan di masyarakat. Katarak menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan, terutama pada kelompok usia lanjut, sedangkan pterigium sering dialami oleh masyarakat yang banyak terpapar sinar ultraviolet, debu, dan lingkungan terbuka.

Sayangnya, masih banyak masyarakat yang kurang menyadari gejala awal kedua kondisi tersebut. Akibatnya, pasien sering datang dalam kondisi yang sudah lanjut dan memerlukan penanganan lebih kompleks. Melalui kegiatan skrining dini, diharapkan gangguan mata dapat terdeteksi sejak awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Baca Juga: Belajar Langsung di Lapangan: Pengalaman Komunikasi Klinis Mahasiswa Leprindo

Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta menjadikan kondisi ini sebagai peluang pembelajaran bagi mahasiswa, sekaligus sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan skrining tidak hanya berfokus pada pemeriksaan, tetapi juga edukasi dan rujukan yang tepat kepada fasilitas kesehatan lanjutan.


Tujuan Pembelajaran bagi Mahasiswa

Kegiatan skrining dini katarak dan pterigium memiliki tujuan pembelajaran yang jelas dan terarah. Pertama, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan teori yang telah dipelajari, seperti anatomi mata, patologi okular, dan prosedur pemeriksaan dasar, ke dalam praktik nyata.

Kedua, kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan klinis mahasiswa, terutama dalam melakukan observasi, anamnesis singkat, serta pemeriksaan mata awal. Mahasiswa juga dilatih untuk mengenali tanda-tanda patologi mata yang memerlukan rujukan lebih lanjut.

Ketiga, mahasiswa dibekali pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat. Hal ini penting untuk melatih komunikasi efektif, empati, dan etika pelayanan kesehatan. Dengan demikian, lulusan Leprindo diharapkan tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.


Pelaksanaan Kegiatan Skrining di Lapangan

Kegiatan skrining dilaksanakan di lokasi yang mudah diakses oleh masyarakat, seperti fasilitas umum atau lingkungan komunitas. Sebelum kegiatan dimulai, mahasiswa mendapatkan pembekalan dari dosen pembimbing mengenai alur pemeriksaan, standar keselamatan, serta prosedur rujukan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa bekerja dalam tim dan berada di bawah pengawasan tenaga pendidik yang berkompeten. Proses skrining diawali dengan pencatatan data dasar pasien, dilanjutkan dengan pemeriksaan visual dan observasi kondisi mata secara langsung. Mahasiswa belajar menggunakan alat pemeriksaan sederhana yang umum digunakan dalam praktik refraksi optisi.

Selain melakukan pemeriksaan, mahasiswa juga terlibat dalam memberikan edukasi singkat kepada masyarakat mengenai kesehatan mata, pentingnya pemeriksaan rutin, serta langkah pencegahan gangguan penglihatan. Kegiatan ini berlangsung dengan tertib dan tetap mengutamakan kenyamanan serta keselamatan peserta skrining.


Pembelajaran Identifikasi Katarak dan Pterigium

Salah satu aspek penting dalam kegiatan ini adalah pembelajaran identifikasi dini katarak dan pterigium. Mahasiswa dilatih untuk mengenali ciri-ciri awal katarak, seperti penurunan ketajaman penglihatan dan perubahan pada lensa mata. Meski refraksi optisi tidak melakukan tindakan medis lanjutan, kemampuan mengenali gejala awal menjadi kompetensi penting dalam menentukan rujukan.

Pada kasus pterigium, mahasiswa mempelajari karakteristik pertumbuhan jaringan pada konjungtiva dan dampaknya terhadap penglihatan. Pengamatan langsung terhadap pasien memberikan pengalaman yang tidak bisa diperoleh hanya melalui gambar atau video pembelajaran di kelas.

Melalui proses ini, mahasiswa memahami bahwa setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda, sehingga dibutuhkan ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan penilaian awal.


Proses Rujukan sebagai Bagian Pembelajaran Profesional

Selain pemeriksaan, kegiatan skrining ini juga mengajarkan mahasiswa tentang pentingnya sistem rujukan. Mahasiswa dilatih untuk menentukan kapan seorang pasien perlu dirujuk ke dokter spesialis mata atau fasilitas kesehatan lanjutan.

Proses rujukan dilakukan secara sistematis, mulai dari pencatatan hasil pemeriksaan hingga pemberian penjelasan kepada pasien. Mahasiswa belajar menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga pasien mengerti kondisi mata mereka dan pentingnya pemeriksaan lanjutan.

Pembelajaran ini sangat relevan dengan peran profesional refraksi optisi sebagai bagian dari tim pelayanan kesehatan mata. Mahasiswa memahami bahwa kolaborasi antar tenaga kesehatan merupakan kunci dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada pasien.


Dampak Kegiatan bagi Mahasiswa

Kegiatan skrining ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi mahasiswa. Pengalaman belajar di lapangan membuat mahasiswa lebih percaya diri dalam menghadapi praktik klinis. Mereka tidak hanya memahami prosedur pemeriksaan, tetapi juga terbiasa beradaptasi dengan situasi nyata di masyarakat.

Mahasiswa juga belajar mengelola waktu, bekerja sama dalam tim, dan bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Nilai-nilai profesionalisme ini sangat penting sebagai bekal memasuki dunia kerja setelah lulus.

Selain itu, keterlibatan langsung dalam kegiatan pelayanan masyarakat menumbuhkan rasa empati dan kepedulian sosial. Mahasiswa menyadari bahwa profesi refraksi optisi memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kesehatan penglihatan.


Manfaat Kegiatan bagi Masyarakat

Di sisi lain, masyarakat juga merasakan manfaat dari kegiatan skrining ini. Masyarakat mendapatkan layanan pemeriksaan mata awal secara gratis atau terjangkau, serta edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata.

Bagi peserta yang terdeteksi memiliki tanda awal katarak atau pterigium, kegiatan ini menjadi pintu masuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut melalui rujukan yang tepat. Dengan demikian, risiko gangguan penglihatan yang lebih parah dapat diminimalkan.

Kegiatan ini juga membantu meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa pemeriksaan mata tidak hanya diperlukan saat mengalami gangguan berat, tetapi juga sebagai langkah pencegahan sejak dini.


Peran Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta

Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta berperan aktif dalam merancang dan mengoordinasikan kegiatan ini sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik. Institusi memastikan bahwa kegiatan skrining selaras dengan kurikulum dan capaian pembelajaran mahasiswa.

Dosen pembimbing tidak hanya berperan sebagai pengawas, tetapi juga sebagai mentor yang memberikan arahan dan evaluasi. Dengan pendekatan ini, mahasiswa mendapatkan pengalaman belajar yang terstruktur dan bermakna.

Kegiatan ini menunjukkan komitmen Leprindo dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, profesional, dan siap terjun ke dunia kerja serta pelayanan masyarakat.


Penutup

Kegiatan Belajar Langsung di Lapangan: Mahasiswa Leprindo Ikut Skrining Dini Katarak dan Pterigium menjadi contoh nyata pembelajaran yang mengintegrasikan teori, praktik, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik dan klinis, tetapi juga membangun karakter profesional dan kepedulian sosial.

Pengalaman belajar di lapangan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang peran refraksi optisi dalam sistem pelayanan kesehatan mata. Dengan pembelajaran seperti ini, diharapkan mahasiswa Leprindo mampu menjadi tenaga kesehatan penglihatan yang berkualitas dan berkontribusi nyata bagi masyarakat.