Dalam dunia optometri dan pemeriksaan penglihatan, ketepatan hasil resep kacamata sangat bergantung pada bagaimana seorang praktisi menjalankan prosedur pemeriksaan. Salah satu tahapan yang paling krusial sekaligus menantang adalah pemeriksaan refraksi subjektif. Tahapan ini melibatkan komunikasi dua arah antara pemeriksa dan pasien untuk menentukan koreksi lensa terbaik yang memberikan tajam penglihatan maksimal. Namun, seringkali pasien merasa pusing, bingung, atau mengalami kelelahan mata (astenopia) selama proses ini berlangsung. Menanggapi hal tersebut, Tips Dosen RO hadir untuk memberikan panduan teknis agar pemeriksaan berjalan efektif, akurat, dan yang paling penting, nyaman bagi pasien.
Sebagai seorang calon Refraksionis Optisien (RO), memahami anatomi dan fisiologi mata adalah dasar, namun seni dalam melakukan pemeriksaan adalah kunci profesionalisme. Banyak praktisi pemula terjebak dalam prosedur yang terlalu lama, sehingga mata pasien mengalami stres akomodasi. Ketika otot siliaris di dalam mata terus-menerus berkontraksi karena perubahan lensa yang terlalu cepat atau tidak tepat, hasil pemeriksaan menjadi tidak valid. Oleh karena itu, efisiensi dalam setiap langkah pemeriksaan adalah hal yang mutlak harus dikuasai oleh setiap mahasiswa maupun praktisi di bidang optometri.
Memahami Esensi Refraksi Subjektif dalam Praktik Klinik
Pemeriksaan refraksi subjektif adalah proses memvalidasi hasil pemeriksaan objektif (seperti dari Autorefractor atau Retinoskopi) dengan respon langsung dari pasien. Tujuan utamanya adalah mencari lensa dengan kekuatan terkecil yang memberikan visus (tajam penglihatan) terbaik. Namun, dalam praktiknya, sering terjadi “over-correction” atau koreksi berlebih, terutama pada kasus miopia, yang memicu kelelahan pada mata pasien.
Tips Dosen RO menekankan bahwa pemeriksaan ini harus dimulai dengan kondisi pasien yang rileks. Jangan terburu-buru memasangkan lensa pada trial frame. Pastikan pencahayaan ruangan sesuai standar klinik dan pasien duduk dalam posisi ergonomis. Kelelahan seringkali muncul bukan karena lensanya, melainkan karena suasana pemeriksaan yang membuat pasien tegang secara psikis. Komunikasi yang tenang dan instruksi yang jelas adalah langkah awal untuk menghindari kebingungan pasien yang berujung pada kelelahan visual.
Teknik Fogging: Kunci Menghindari Kelelahan Mata
Salah satu penyebab utama kegagalan dalam refraksi subjektif adalah adanya aktivitas akomodasi yang tidak terkendali. Mata manusia, terutama pada pasien muda, memiliki kemampuan untuk mencembungkan lensa mata secara otomatis. Jika ini terjadi saat pemeriksaan, pasien mungkin akan merasa penglihatannya tajam dengan lensa minus yang lebih tinggi dari yang seharusnya, namun ini akan membuat mata cepat lelah saat kacamata digunakan dalam waktu lama.
Untuk mengatasi hal ini, Tips Dosen RO sangat menyarankan penggunaan teknik fogging. Teknik ini dilakukan dengan memberikan lensa plus berlebih di awal pemeriksaan untuk membuat pandangan pasien menjadi kabur (seperti melihat di dalam kabut). Tujuannya adalah untuk “mengistirahatkan” otot akomodasi agar benar-benar relaks. Dengan otot yang relaks, kita bisa menarik kekuatan lensa secara perlahan hingga mencapai titik tajam penglihatan yang sesungguhnya tanpa membebani mata pasien. Langkah ini mungkin memakan waktu sedikit lebih lama di awal, namun hasilnya jauh lebih stabil dan nyaman bagi pasien.
Prosedur yang Presisi dan Tidak Bertele-tele
Kecepatan praktisi dalam mengganti lensa sangat memengaruhi tingkat kelelahan pasien. Pasien seringkali merasa jenuh jika harus membandingkan dua lensa dalam waktu yang terlalu lama. Pertanyaan klasik seperti “Lebih jelas satu atau dua?” tidak boleh diulang terlalu sering untuk satu ukuran lensa yang sama. Tips Dosen RO menyarankan agar perpindahan lensa dilakukan dengan gerakan yang cepat dan halus.
Gunakanlah prinsip Minimum Change for Maximum Result. Jangan merubah ukuran lensa terlalu drastis jika pasien sudah menunjukkan perbaikan visus. Selain itu, perhatikan juga penggunaan Jackson Cross Cylinder (JCC) saat menentukan ukuran silinder. Pastikan titik fokus pasien tetap pada objek yang benar (biasanya pada satu baris di atas visus terbaiknya). Jika praktisi terlalu lama memutar-mutar lensa silinder tanpa arah yang jelas, mata pasien akan mulai melakukan kompensasi saraf yang mengakibatkan hasil pemeriksaan menjadi tidak konsisten.
Pentingnya Keseimbangan Binokular (Binocular Balancing)
Setelah pemeriksaan mata kanan dan kiri selesai dilakukan secara monokular, langkah yang seringkali dilupakan namun sangat penting menurut Tips Dosen RO adalah binocular balancing. Mata kita bekerja secara berpasangan. Terkadang, koreksi yang terlihat sempurna saat satu mata ditutup justru menimbulkan ketidaknyamanan saat kedua mata dibuka bersamaan.
Keseimbangan binokular memastikan bahwa kedua mata melakukan akomodasi pada level yang sama. Jika satu mata bekerja lebih keras daripada mata lainnya karena perbedaan koreksi yang tidak seimbang, pasien akan mengeluh sakit kepala atau mata terasa “tertarik” setelah memakai kacamata selama 15 menit. Dalam refraksi subjektif, kenyamanan binokular adalah harga mati. Hasil akhir harus memberikan sensasi penglihatan yang menyatu dan nyaman, bukan sekadar tajam di satu sisi saja.
Komunikasi Efektif untuk Mengurangi Beban Mental Pasien
Seringkali, kelelahan pada mata pasien berawal dari beban mental karena mereka takut salah menjawab saat pemeriksaan. Banyak pasien merasa bahwa pemeriksaan ini adalah sebuah “tes” yang harus dijawab dengan benar. Di sinilah peran seorang RO untuk memberikan edukasi bahwa tidak ada jawaban salah.
Tips Dosen RO dalam hal komunikasi adalah dengan memberikan instruksi yang spesifik. Misalnya, daripada bertanya “Bagaimana sekarang?”, lebih baik bertanya “Apakah hurufnya terlihat lebih hitam dan tegas, atau hanya terlihat lebih kecil dan gelap?”. Perbedaan antara “jelas” dan “lebih kecil” sangat tipis bagi pasien miopia. Dengan membantu pasien mengidentifikasi kualitas penglihatan, kita membantu mereka memberikan respon yang lebih cepat, sehingga durasi pemeriksaan terpangkas dan kelelahan dapat dihindari.
Mengelola Pasien Presbiopia dan Kasus Khusus
Untuk pasien usia lanjut atau presbiopia, tantangannya berbeda lagi. Kelelahan biasanya muncul karena rentang fokus yang sudah berkurang drastis. Dalam refraksi subjektif untuk pasien presbiopia, penentuan addisi (lensa baca) harus disesuaikan dengan jarak kerja harian pasien. Jangan hanya terpaku pada tabel usia.
Jika pasien adalah seorang penjahit, jarak bacanya akan berbeda dengan seorang pengguna komputer. Tips Dosen RO menekankan untuk selalu menanyakan aktivitas utama pasien sebelum menentukan hasil akhir. Memberikan koreksi yang terlalu kuat atau terlalu lemah untuk jarak kerja mereka akan membuat otot mata bekerja ekstra keras. Kenyamanan adalah prioritas utama dibandingkan sekadar ketajaman angka di kartu Snellen.
Peran Lingkungan Ruang Praktik RO
Kondisi fisik ruang pemeriksaan juga berkontribusi pada kenyamanan mata pasien. Pastikan proyektor optotype atau bagan Snellen memiliki kontras yang baik. Jika bagan sudah kusam atau lampu proyektor mulai meredup, pasien akan menyipitkan mata untuk melihat, yang secara otomatis memicu kelelahan otot wajah dan mata.
Seorang RO yang profesional harus memastikan semua alat dalam kondisi prima. Kebersihan lensa uji (trial lens) juga sangat berpengaruh. Lensa yang penuh sidik jari atau goresan akan membuat bayangan menjadi pecah, sehingga pasien kesulitan memberikan respon yang akurat. Hal-hal kecil seperti ini seringkali diabaikan, padahal dampaknya sangat besar terhadap kualitas pemeriksaan refraksi subjektif.
Baca Juga: Memahami Mata melalui Cahaya: Pendekatan Aplikatif Fisika Optik dalam Pendidikan Refraksi Optisi


Recent Comments