Dalam dunia pendidikan kesehatan, teori saja tidak cukup untuk membentuk profesional yang handal. Di Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta, mahasiswa tidak hanya mempelajari ilmu optometri dan refraksi mata di kelas, tetapi juga diajak terjun langsung ke lapangan untuk mengasah kemampuan praktis mereka. Salah satu kegiatan yang menjadi bagian penting dari kurikulum adalah Bakti Sosial Pemeriksaan Mata, yang sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melatih komunikasi klinis secara nyata.

Pentingnya Komunikasi Klinis dalam Profesi Optisi
Komunikasi klinis adalah kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dan empatik dengan pasien, termasuk mendengarkan keluhan, menjelaskan hasil pemeriksaan, serta memberikan saran atau edukasi terkait kesehatan mata. Bagi seorang optisi, komunikasi yang baik bukan hanya soal menyampaikan informasi teknis, tetapi juga membangun rasa nyaman dan kepercayaan pasien.
Mahasiswa Leprindo belajar bahwa pasien tidak selalu memahami istilah medis. Oleh karena itu, kemampuan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa sederhana, ramah, dan mudah dimengerti menjadi keterampilan yang sangat berharga. Kegiatan lapangan memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi berbagai karakter pasien, dari anak-anak hingga lansia, serta pasien dengan kondisi mata yang berbeda-beda.
Bakti Sosial sebagai Sarana Pembelajaran Praktis
Setiap semester, Akademi Refraksi Optisi Leprindo mengadakan bakti sosial pemeriksaan mata di berbagai komunitas, mulai dari sekolah, panti sosial, hingga masyarakat umum. Kegiatan ini bertujuan ganda: memberikan pelayanan kesehatan mata gratis kepada masyarakat, sekaligus menjadi sarana belajar bagi mahasiswa.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya melakukan pemeriksaan refraksi atau tes penglihatan, tetapi juga berinteraksi dengan pasien. Mereka belajar menanyakan riwayat kesehatan mata, mencatat gejala, menjelaskan proses pemeriksaan, hingga memberikan rekomendasi kacamata yang sesuai. Semua ini dilakukan di bawah pengawasan dosen pembimbing, yang memberikan arahan dan umpan balik secara langsung.
Baca Juga: Leprindo Ramah Difabel: Cara Mahasiswa Bantu Teman Netra Melihat Dunia
Tahapan Pembelajaran Komunikasi Klinis di Lapangan
Persiapan Sebelum Lapangan
Mahasiswa memulai dengan mempelajari prosedur pemeriksaan dan teknik komunikasi klinis. Mereka dilatih untuk menyusun pertanyaan yang sopan dan sistematis, memahami cara mendeteksi keluhan pasien, serta mempraktikkan cara memberikan instruksi yang jelas saat pemeriksaan.Pelaksanaan Pemeriksaan Mata
Di lapangan, mahasiswa bertugas dalam tim, membagi peran antara pemeriksa refraksi, pencatat data, dan pendamping pasien. Saat interaksi dengan pasien, mereka belajar menyesuaikan bahasa dan sikap agar pasien merasa nyaman. Misalnya, anak-anak biasanya memerlukan pendekatan lebih santai dan visual, sedangkan lansia mungkin membutuhkan penjelasan yang lebih lambat dan sabar.Memberikan Edukasi Kesehatan Mata
Selain pemeriksaan, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan mata, kebiasaan membaca yang benar, pola istirahat mata, hingga cara membersihkan kacamata. Komunikasi ini melatih mahasiswa untuk menyampaikan informasi dengan cara yang persuasif namun tetap mudah diterima.Refleksi dan Umpan Balik
Setelah kegiatan, mahasiswa melakukan refleksi bersama dosen pembimbing. Mereka mendiskusikan tantangan yang dihadapi, bagaimana cara mengatasi pasien yang cemas atau ragu, serta strategi untuk meningkatkan komunikasi. Sesi ini sangat penting untuk menghubungkan pengalaman praktis dengan teori yang telah dipelajari.
Menghadapi Beragam Karakter Pasien
Salah satu hal paling menantang dan berharga dari kegiatan lapangan adalah berinteraksi dengan pasien dari berbagai latar belakang. Mahasiswa menemukan bahwa tidak ada pendekatan komunikasi yang “satu ukuran untuk semua”. Beberapa pasien mungkin cenderung pendiam dan membutuhkan pertanyaan yang lebih terbuka, sementara yang lain mungkin lebih banyak bertanya dan ingin detail lebih lengkap.
Melalui pengalaman ini, mahasiswa belajar untuk membaca bahasa tubuh, intonasi suara, dan ekspresi wajah pasien. Kemampuan ini sangat krusial dalam komunikasi klinis karena membantu mahasiswa menyesuaikan gaya komunikasi agar pasien merasa dihargai dan dimengerti.
Meningkatkan Kepercayaan Diri Mahasiswa
Terjun langsung ke lapangan juga membantu meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa. Di kelas, mereka hanya belajar teori dan simulasi, namun di lapangan, mereka harus menghadapi situasi nyata dengan pasien sungguhan. Tantangan ini mengajarkan mahasiswa untuk berpikir cepat, fleksibel, dan bertindak profesional dalam situasi yang tidak selalu ideal.
Kepercayaan diri ini bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga soal kemampuan berkomunikasi, memecahkan masalah, dan bekerja sama dalam tim.
Dampak Positif bagi Mahasiswa dan Masyarakat
Bakti sosial pemeriksaan mata memberikan manfaat ganda. Bagi masyarakat, kegiatan ini menyediakan akses pemeriksaan mata yang mungkin tidak selalu terjangkau. Bagi mahasiswa, kegiatan ini menjadi laboratorium nyata untuk mengasah keterampilan klinis dan komunikasi.
Selain itu, pengalaman lapangan menumbuhkan empati mahasiswa. Mereka belajar memahami kondisi dan kebutuhan pasien secara lebih mendalam, serta menyadari pentingnya pelayanan kesehatan yang ramah dan profesional.
Integrasi Teori dan Praktik
Akademi Refraksi Optisi Leprindo menekankan integrasi antara teori dan praktik. Dalam mata kuliah komunikasi klinis, mahasiswa belajar konsep dasar interaksi pasien, etika profesi, serta teknik penyampaian informasi medis. Namun, semua teori ini menjadi lebih hidup ketika diterapkan langsung di lapangan.
Mahasiswa dapat melihat secara nyata bagaimana teori komunikasi klinis bekerja, bagaimana respons pasien, dan bagaimana menyesuaikan pendekatan untuk hasil terbaik. Proses ini memperkuat pemahaman mereka dan menyiapkan mereka untuk menghadapi situasi profesional setelah lulus.
Kiat Sukses Komunikasi Klinis bagi Mahasiswa
Dari pengalaman lapangan, beberapa kiat komunikasi klinis yang efektif dapat diambil, antara lain:
Dengar Lebih Banyak, Bicara Secukupnya
Memahami keluhan pasien secara penuh lebih penting daripada langsung memberikan jawaban. Mendengarkan dengan seksama membangun kepercayaan.Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami
Hindari istilah teknis yang membingungkan pasien. Gunakan analogi atau contoh sehari-hari untuk menjelaskan kondisi mata.Tunjukkan Empati dan Kesabaran
Pasien yang cemas atau ragu membutuhkan ketenangan dan perhatian. Sikap ramah dan sabar membuat pasien lebih nyaman.Perhatikan Bahasa Tubuh
Ekspresi wajah, kontak mata, dan gerakan tubuh bisa memperkuat pesan yang disampaikan atau menunjukkan perhatian.Evaluasi Diri dan Terima Umpan Balik
Refleksi setelah interaksi membantu mahasiswa mengenali kekuatan dan kelemahan dalam komunikasi mereka.
Kesimpulan
Belajar komunikasi klinis melalui pengalaman langsung di lapangan adalah bagian penting dari pendidikan di Akademi Refraksi Optisi Leprindo Jakarta. Kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata tidak hanya memberikan manfaat bagi masyarakat, tetapi juga menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan teknis dan interpersonal.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa belajar membaca kebutuhan pasien, menyesuaikan gaya komunikasi, membangun empati, dan meningkatkan kepercayaan diri. Semua pengalaman ini menjadikan mereka lebih siap menghadapi dunia profesional sebagai optisi yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga ramah, komunikatif, dan empatik.
Pembelajaran di lapangan membuktikan bahwa pendidikan kesehatan yang ideal adalah yang menggabungkan teori, praktik, dan pengalaman nyata, sehingga mahasiswa dapat menjadi profesional yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.

Recent Comments